Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

May 20, 2011

Puisi Terakhir untuk Tami

Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai. Bahkan kita belum sempat bertemu. ya? Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat. "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?" "Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi." "Apa kamu siap memiliki kehilangan?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya.

***

Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi di bawah Kementerian Keuangan.

Sebenarnya aku tidak suka udara dingin. Udara dingin pernah membuatku menyerah menempuh pendidikan di ITB. Saat itu hidungku hampir selalu berdarah-darah karena pembuluh darah yang rapuh—tak kuat udara dingin. Dan besok aku harus pergi ke sana lagi. Dua ketakutan lahir di dadaku. Pertama, karena udara dingin itu. Kedua, karena kenangan-kenangan di masa lalu yang segera menyergapku begitu aku menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan itu.

"Hati-hati, Di."

Kau berkata seakan-akan aku akan menghilang selamanya. Memang, di acara itu juga akan diadakan arung jeram. Siapapun yang lengah bisa saja terpental dari perahu, menumbur batu, pingsan, lalu terbawa arus ke kematian. Tetapi, tentu aku tidak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya pada standar keamanan yang diterapkan.

Hal kedua, entahlah, aku juga merasa kau mencintaiku. Sementara aku belum siap mencintaimu. Kau sendiri yang paham, betapa luka telah akrab dengan dadaku. Segala cinta yang pernah mampir tiba-tiba berlenyapan satu per satu dengan cara yang kadang tidak bisa kuterima dengan logika. Katakanlah pacar pertamaku yang mata duitan itu, pacar keduaku yang memutuskan menikah dengan orang lain tanpa memberikan alasan yang dapat kuterima, dan terakhir Si Dokter Gigi yang menyerah karena mengetahui pola mutasi di tempat bekerjaku yang baru. Hanya kau, yang berani meyakinkan aku, bahwa bagaimanapun aku, kau akan tetap di sampingku.

***

Kau takut kecoa. Aku takut cacing. Kau suka kucing. Aku suka kepiting. Dahimu bekernyit, "Apa bagusnya kepiting?" "Apa bagusnya kucing?" "Kucing itu hewan yang lucu dan manja." "Kepiting itu jalannya miring." "Semua orang juga tahu kepiting jalannya miring." "Kepiting punya capit." "Semua orang juga tahu kepiting punya capit." "Tapi orang-orang tidak tahu kalau kau malu, mukamu akan seperti kepiting rebus."

Kau diam. Dan pasti memerah. Aku memang belum pernah melihat wajahmu. Tapi aku yakin jenis kulitmu yang putih itu akan mudah memerah kalau terkena panas dan menahan malu. "Di...." "Ya?" "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki?"

Giliran aku yang diam. Kau juga diam di seberang sana. Perlahan, udara dingin di Kemayoran mengepung tulang-tulangku. “Di, aku mencintaimu....” lanjutmu pelan dan langsung menutup telepon setelahnya.

***

Aku sempat beranggapan bahwa perempuan-perempuan yang mencintaiku akan berakhir dengan airmata. Hal ini tentu bukan tidak beralasan. Penyair seperti aku cenderung memilih kesunyian sebagai tempat pelepasan. Katarsis. Dan pada akhirnya, mereka merasa diduakan. Padahal, aku tentu masih mencintainya. Masih mencintai setiap kenangan dan waktu yang pernah kubagi. Aku hanya memiliki duniaku sendiri. Aku hanya mencintai kesunyianku sendiri—selain cintaku pada kecintaan yang dipersembahkan untukku. “Luka adalah lelucon yang datang tiba-tiba.”

Tiba-tiba di perteleponan kita yang kesekian, kau mengatakan hal itu. Sepertinya selama ini aku abai pada perasaanmu. Sepertinya selama ini aku hanya peduli pada kelukaanku sendiri. Dan hari itu aku menyadari bahwa luka bukan hanya milikku. Tetapi juga milikmu. Dan aku begitu ingin belajar kepadamu tentang cara menghadapi kelukaan yang sedemikian akut. “Hidup yang lucu, atau kita yang lucu?” “Atau Tuhan yang lucu?” Aku tertawa. Kau tertawa. Dan kita saling menertawakan diri kita masing-masing. “Kenapa kau mencintaiku, Mi?” “Karena itu kamu....” “Karena aku?” “Jika orang lain, aku tidak akan mungkin mencintai.” “Apa istimewanya aku?” “Apa butuh keistimewaan untuk mencintaimu, Di?” Kau begitu sering membuat aku terdiam dengan pertanyaan dan pernyataanmu. “Kau tidak tahu masa laluku?” “Apa kau tahu masa laluku?” “Tidak.” “Aku tidak peduli dengan segala hal yang pernah kau lakukan di masa lalumu, Di....” “Aku tidak berani mencintaimu, Mi.” “Aku tidak memaksa kamu mencintaiku. Tapi setidaknya biarkan aku mencintaimu, ya?”

***

Mungkin seminggu lagi aku akan pulang ke Palembang. Tetapi, kau bilang seminggu lagi kau akan kembali ke Bandung—sebab telah habis masa liburmu. Jarak antara Palembang—Jambi sama dengan jarak antara Jakarta—Bandung. Tetapi jarak di antara kita sesungguhnya jauh lebih dekat dari sepasang bola mata yang tak kunjung saling bisa membaca.

Setelah buku Kumpulan Cerpen “Dongeng Afrizal” ku terbit, aku memang merencanakan akan melakukan tur ke sejumlah kota untuk bedah buku. Palembang, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sudah barang tentu menjadi tujuan wajib. Sebentar lagi juga ulang tahunmu, mungkin menemuimu nanti akan menjadi sebuah hadiah kejutan terindah.

Akan tetapi, kesibukan-kesibukan yang makin padat, antara pekerjaanku sebagai CPNS di Ditjen Perbendaharaan yang dimix dengan rutinitasku sebagai penulis (dan penyair) membuat kita jarang sekali berkomunikasi. Terakhir kali kau mengirim SMS untuk mengirimkan bukuku itu ke rumahmu. Aku sempat mencandaimu, ingin ditambahkan apa di buku tersebut—semisal tanda tangan, cap bibir, atau foto-fotoku. Tetapi, SMS yang terlewat malam itu tidak kau balas. Kau pasti sudah tertidur.

Setelah itu, aku tidak tahu kenapa aku lupa menanyakan kabarmu. Dan heran pula diriku mengetahui kau tidak sekali pun megirim atau menanyakan kabarku. Mungkin kau sedang sangat sibuk—sepertiku.

Akhirnya, karena aku lamat-lamat merasakan rindu mengalir di benakku—memikirkanmu, aku mengirim SMS kepadamu:

Tami, apakah kirimanku sudah sampai ke hatimu? Tidak dibalas. Mungkin kau sedang tidak punya pulsa.

***

Beberapa jam kemudian, kau menghubungiku. Namun bukan suaramu. “Nak Pringadi, ya?” Suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar bersahaja. “Saya ibunya Tami.” Lanjutnya mengenalkan diri. Mendadak hatiku gelisah. “Iya, Bu, saya Pringadi, Taminya ke mana, Bu?” “Bukunya sudah sampai. Tadi kami baca. Tidak salah Tami mengagumimu dan banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Nak Pringadi.” Aku diam. “Kalau Tami ada salah-salah kata selama berteman dengan Nak Pringadi, mohon maafkan dia ya?” “Tami ke mana, Bu?” aku mengulang pertanyaanku. Dadaku tiba-tiba sesak. “Tami belum sempat membaca bukunya. Tami keburu dipanggil Allah. Beberapa hari lalu, dia masuk rumah sakit. Demam berdarah. Dia....” “Jangan dilanjurkan, Bu!” aku memotongnya. “Ini pasti bercanda, kan?” “Ini kenyataan, Nak.” “Tapi baru beberapa hari lalu kami berkomunikasi, Bu. Kematian tidak mungkin datang secepat ini pada perempuan sebaik dia!”

Aku tidak mendengarkan perkataan selanjutnya dari ibunya Tami. Aku mendadak lemas. Terisak. Dan membiarkan suara di sana berbicara sendiri.

Kubuka laptopku dan kusaksikan profil facebooknya. Segala kenangan tentangnya mendadak bermunculan dan berkelindan di mataku. Sebuah kalimat yang sering ia utarakan itu mengiang-ngiang di benakku.

Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di? Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah mengisi rongga dadaku. Sebab di langit mana pun kita berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender yang bertanggalan, seperti helai dedaunan--- terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan, kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit, tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah melebihi semua gegabah yang sering kulakukan. Andai kita berpisah, pastilah karena bulan di langit sudah tak sama. Angin malam, gerak bayangan di remang taman, dan sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim; Aku tergeletak. dadaku retak.

Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai...

Oleh : Pringadi Abdi Surya (http://reinvandiritto.blogspot.com/)
Sumber : Kompas

April 04, 2011

Uang Kembalian Berbuntut


Rebutan Uang Kembalian
Karena terlalu sibuk melayani pembeli, penjual bakmi di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, tak sempat mengirim pesanan seorang ibu. Jarak antara tempat penjual bakmi mangkal dan pemberi order hanya sekitar 100 meter. Kebetulan ketika pesanan selesai dimasak, seorang anggota satpam setempat lewat. Kepada si petugas satpam, penjual bakmi kemudian minta tolong untuk mengantarkan bakmi kepada si ibu pemesan.

Agar tidak bolak-balik, penjual bakmi langsung membekali diri dengan uang kembalian sebesar Rp 43.000 mengingat ibu pemesan bakmi biasanya (hari-hari sebelumnya) membayar dengan uang besaran Rp 50.000.

Hari itu ternyata si ibu membayar dengan uang pecahan Rp 10.000. Jadi, jika harga bakmi ”hanya” Rp 7.000, uang kembalian cuma Rp 3.000. Uang kembalian itulah yang diserahkan kepada si petugas satpam oleh si ibu begitu si petugas satpam menyerahkan bungkusan bakmi.

”Uang kembalian boleh kamu ambil...,” tutur si ibu ramah kepada si petugas satpam.

Merasa tugasnya selesai, si petugas satpam ngeloyor pergi. Ia lalu melapor ke pemberi tugas. ”Bakmi sudah saya serahkan kepada si ibu disertai ucapan terima kasih dan diimbuhi kalimat uang kembalian untuk saya...,” kata si petugas satpam.

Mendengar kalimat ini, si penjual bakmi kaget.



”Lha mana uang kembalian dari saya yang Rp 43.000?” kata tukang bakmi.

”Pokoknya si ibu bilang uang kembalian untuk saya. Artinya seberapa pun besarnya adalah hak saya...,” tegas si petugas satpam.

Saling ngotot di tengah malam itu tak memperoleh titik temu. Si petugas satpam tetap pada argumentasinya, uang kembalian adalah ”haknya”. Sedangkan penjual bakmi mencoba menerangkan bahwa yang menjadi hak si petugas satpam adalah uang Rp 3.000 (hasil pengurangan harga bakmi dengan uang Rp 10.000).

”Tadi Anda tidak bilang begitu. Anda hanya mengatakan, uang kembaliannya Rp 43.000. Jadi, jika si ibu bilang uang kembalian boleh kamu ambil, ya itu menjadi hak saya,” ungkap si petugas satpam dengan nada keras.

Komandan satpam didatangkan, demikian pula rekan-rekan petugas satpam lainnya yang malam itu berdinas. Mereka mencoba ikut mengurai masalah. Namun, si petugas satpam tetap pada argumentasi semula. Karena penjual bakmi mencoba menjaga harmonisasi hubungan antarsesama manusia, ia pun merelakan uang Rp 43.000 masuk saku si petugas satpam. Ia hanya bisa ngedumel....

”Menjual bakmi semalam hanya untung Rp 150.000. Kini sepertiganya melayang,” kata penjual bakmi.

March 19, 2011

Mantan Pastor Itu Berkisah Mengapa Pilih Islam


Idris Tawfiq
"Bukan saya yang mencari Islam, Islam yang menemukan saya," kata Idris Tawfiq. Ia berbicara di depan akademisi dan keluarga besar universitas papan atas Inggris, Cambridge. Di perguruan tinggi ini tengah dihajat acara tahunan Experience Islam Week, acara untuk pengenalan Islam dan toleransi.

Ia mengaku, tak ada masalah dengan masa lalunya. "Saya mencintai pekerjaan dan masa lalu saya, namun hati saya seperti dipandu memilih Islam," katanya. "Setelah menjadi Muslim, saya menemukan kedamaian yang tak pernah saya temukan sebelumnya."

Menurutnya, keputusannya memilih Islam adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia masih melakukan pelayanan, ketika kemudian hatinya berbicara lain. Sampai suatu saat, timbul keberanian untuk menyatakan behenti dan mundur. "Saya merasa sendiri setelah itu," katanya.

Pertama kali, ia menyatakan berhenti menjadi pastor. Namun, ia tetap memegang kayakinan lamanya, sambil terus belajar Islam. "Saya tidak bermaksud mengubah iman saya itu bukan bagian dari rencana saya sama sekali," katanya.



Ia menyatakan, tinggal dan besar di Inggris selama 40 tahun, ia punya pandangan stereotip tentang Muslim. Tapi saat liburan di Mesir, ia bertemu dan berteman dengan banyak orang Muslim, dan mengatakan bahwa ia mulai menyadari persepsi tentang keyakinan Islam. "Keyakinan lama saya perlahan luntur, dan Islam menjadi lebih menarik perhatian saya," katanya.


Idris Tawfiq outside Trinity Hall, Cambridge, in February 2010
Menurutnya, ajaran Islam sebenarnya sangat indah. "Tak benar Islam mengajarkan kekerasan. "Jika Anda menyelami ajaran Islam, Anda akan menemukan ajaran agama ini benar-benar sangat indah, sangat lembut, dan manis," katanya.

Ia menyarankan satu hal bagi mereka yang tengah belajar Islam. "Sebelum Anda membuah keputusan, tarik nafas dalam-dalam dan dengarkan apa kata Islam. Kemudian, penahi pola pikir Anda," katanya.

Saat ini, Tawfiq memutuskan untuk tinggal di Mesir. Ia mengaku tak gamang dengan perubahan politik di negeri itu. "Satu hal yang diajarkan Islam adalah, jangan pernah terkejut dengan apapun yang datang dalam kehidupan kita. Di Mesir, semua terbukti. Siapa yang menduga hanya dalam tiga pekan tiran yang 30 tahun lebih berkuasa bisa tumbang," katanya.

Website Pribadi Idris Tawfiq : http://www.idristawfiq.com/

February 12, 2011

Bagian Tubuh Terpenting


Bagian Tubuh Kita
Sering kita tidak mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Allah swt. kepada kita. Sering kita tidak menyadari btapa pentingnya bagian-bagian dalam tubuh kita. Dan ini merupakan kisah mengenai bagian tubuh manakah yang terpenting.

# # # # #

Di masa kecil dulu, ibu sering kali bertanya kepadaku tentang bagian tubuh yang terpenting bagi kita. Dan sepanjang waktu itupun aku selalu mencoba-coba menebak jawaban yang kupikir paling benar.

Ketika kecil, pertama-tama yang ku pikirkan itu adalah suara. Maka aku berkata kepada ibuku bahwa telingalah yang terpenting.

Ibuku berkata, "Bukan, sebab banyak orang yang tuli. Tapi tidak apa-apa. Ibu akan tanyakan kembali hal ini padamu."

Beberapa tahun kemudian, ia bertanya lagi padaku. Sejak terakhir ku pikirkan, saya mencoba mencari jawaban yang lebih benar. Maka,,, kali ini ku katakan pada ibuku, "Pastilah mata... Sebab penglihatan sangatlah penting bu..."

Ia menatapku dan mengatakan bahwa aku belajar dengan cepat. Tetapi jawabanku ternyata masih keliru, sebab banyak orang di dunia ini yang buta.

Bertahun-tahun kemudian aku terus-menerus belajar dan ibupun kembali menanyakan hal yang sama. Dan selalu,,, ia memberikan tanggapan yang sama, "Keliru nak... Tapi kau semakin bertambah pintar."



Sampai tibalah waktu...
Tahun lalu, kakekku meninggal. Kami semua sedih dan menangis. Bahkan ayahku pun menangis. Aku ingat peristiwa itu, karena baru kedua kalinya lah ku saksikan ayahku menangis.

Ibuku menatapku saat terakhir kami harus mengcapkan salam berpisah kepada kakekku. Ia lalu bertanya padaku, "Sudahkah kau tahu bagian tubuh terpenting itu anakku ???".

Aku sungguh kaget dia menanyakan hal tersebut saat itu. Tadinya aku berpikir ibu menanyakan hal itu selama ini cuma sebagai permainan antara kami berdua saja.

Tapi ia kelihatan bingung menatap wajahku dan berkata, "Pertanyaan ini sungguh-sungguh sangat penting nak... Ini menunjukkan bahwa kau betul-betul hidup dalam kehidupanmu. Untuk tiap jawaban yang kau berikan dulu, selalu ku katakan keliru dan ku jelaskan alasannya. Tapi, hari ini kau perlu memahami pelajaran penting ini..."

Ia menatapku dalam-dalam, tatapan seorang ibu. Ku lihat air matanya menetes, dan berkata, "Anakku,,, bagian tubuh terpenting adalah bahumu."

"Apakah karena dia menopang kepalaku, bu ???"

"Bukan,,, karena ia bisa menumpu kepala sahabat atau orang yang kita cintai pada satu titik , anakku... Aku hanya berharap kau cukup memiliki cinta dan sahabat yang akan menyediakan bahunya menjadi tumpuan pada saat kau menangis seperti saat ini, atau saat kau memerlukannya..."

January 14, 2011

Cinta Seorang Gadis Cantik

"Sekarang aku harus menggadaikan cintaku di tempat ini. Aku harus bersabar menunggu setiap lelaki yang sudi mampir walau hanya berbekal cinta kilat dan akan lenyap dalam semalam saja"
Suatu hari, saat matahari berada pada titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah aku merasa sangat cemas pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa. Ada sesuatu yang tak biasa akhir-akhir ini. Aku tak begitu paham apa yang terjadi, tapi, mungkin inilah keanehan yang baru kuketahui bahwa aku memilikinya. Keanehan ini berada di dalam tubuhku. Sebentar lagi. Aku menemuimu Tuhan.

* * *

Aku seorang perempuan yang beranjak dewasa. Dengan tinggi 160 cm. Rambut hitam panjang, melewati pundak. Aku terlihat cukup sempurna di mata lelaki. Setidaknya, itu kuketahui dari bisik-bisik mereka tentangku. Kenapa aku tahu? Menguping? Tentu tidak. Sebagian karena mereka terang-terangan mengatakannya di depanku. Menggodaku, tapi aku cuek saja.

Banyak teman lelaki, sekelas atau dari kelas lain juga dari kakak tingkat yang mendekatiku. Aku sempat merasa begitu tersanjung, kagum pada diriku sendiri. Aku merasa begitu populer di sekolah. Jika hari valentine tiba, bisa dipastikan akulah gadis yang paling banyak menerima ucapan selamat di tanggal 14 Februari itu. Entah melalui pesan singkat, sapaan langsung, kartu ucapan, mawar, coklat, boneka, kado, dll. Sebagain dari pemberian para lelaki itu, aku tak berencana ingin memilikinya.

Tak jarang aku harus terbiasa dengan hari valentine yang selalu mengundang dan memunculkan niat para lelaki untuk menyatakan cintanya padaku. Tapi kutolak semua. Tak ada lelaki yang kucintai. Mungkin karena banyaknya jumlah mereka, aku tak yakin dengan lelaki-lelaki itu. Setidaknya belum, belum kujumpai lelaki yang sungguh-sungguh mencintaiku.

Kau penasaran? Kenapa tak ada lelaki yang kuterima cintanya? Karena aku masih ingin sendiri. Menikmati hari. Sendiri itu menyenangkan. Aku bisa meluangkan waktu untuk belajar atau membaca banyak hal. Aku ingin belajar banyak hal, ingin tahu mengenai hal-hal yang tak kutetahui.

Terkadang sempat terlintas dipikiran, keinginan memiliki pendamping. Dan terkadang aku lebih yakin tentang jodoh yang tak akan lari kemana pun. Lebih yakin lagi, bila sudah jodoh, pasti dia yang entah siapa akan jadi pacarku suatu saat nanti.

Orang tuaku malah tak sependapat tentang sikapku itu. Mereka selalu bertanya padaku, mengapa aku tak juga memiliki pacar. Mereka sangat khawatir. Berkali-kali pertanyaan mereka kutepis dengan pernyataan, aku masih mau menyelesaikan studiku dulu. Enteng, bukan. Itulah aku yang tak ingin direpotkan mengenai lelaki.

Tetapi, jawabanku itu tidaklah cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu kedua orangtuaku. Setiap makan malam, mereka selalu memberondongku dengan segudang pertanyaan juga bujukan. Dari makan malam ke makan malam berikutnya. Dari hari ke hari. Hingga waktu berputar lagi, dari pagi, malam dan pagi kembali serasa menggangggu. Selalu muncul lagi pertanyaan-pertanyaan mereka di benakku.

“Mama takut, kamu tak menyukai lelaki,” kata ibuku.

“Atau jangan-jangan...” kakakku mendadak menimpali.

“Maksudnya?” ibuku penasaran.

Kedua oarangtuaku sepertinya tak sabaran melihatku menggandeng seorang lelaki. Mereka mulai aneh dan terlalu jauh menafsirkan tentang diriku. Begitu juga kakaku itu. Tapi, apakah benar yang dikatakan mereka itu? Kurasa tidak. Aku baik-baik saja.

* * *




Bermula dari ajakan sahabat satu kampusku. Suatu hari dia menelponku, menanyakan keberadaanku.

“ Cin, kamu lagi dimana?” katanya.

Dia masih memanggilku seperti dulu, cinta, disingkat dengan cin. Panggilan akrab seorang dari seorang sahabat.

“Sudah lulus ya?” dia keheranan. “Wah, hebat. Kalau begitu kamu harus traktir aku ya?” desaknya.

Dan aku mengiyakan ajakannya. Aku sudah berjanji padanya, dulu, ketika masih bersama-sama kuliah menempuh pendidikan S1. Kami berteman akrab. Satu kos. Saling curhat, kadang sampai pagi dan tidurpun seranjang. Maklum kami selalu mencari tempat kos yang murah meriah.

Akhirnya, malam itu kami tertawa. Girang dan bahagia. Cekikikan, terbahak, sesekali saling meledek seperti masa SMA dulu. Banyak hal yang kami ulas dan ceritakan. Tentang dia yang kini sudah memiliki suami dan anak. Tentang diriku yang masih lajang hingga usia 30 tahun. Tentang segala hal. Juga tentang teman-teman cowok yang sering pdkt ketika SMA dulu. Kami hanyut dalam obrolan tanpa ujung itu.

Sampai waktu di jam tangan menunjukkan dini hari. Tak terasa waktu cepat berlalu. Begitulah obrolan yang selalu mampu meringkas waktu. Dan akhirnya, dia menawariku untuk menginap dirumahnya.

Aku mengiyakannya. Tak curiga atau berprangka buruk padanya. Toh sejak kuliah kami memang selalu bersama.

“Yang penting tak mengganggu keluargamu,” kataku, sambil tersenyum.

“Mumpung suamiku lagi tak ada,” jawabnya, juga dengan senyuman.

* * *


Sekarang aku harus menggadaikan cintaku di tempat ini. Aku harus bersabar menunggu setiap lelaki yang sudi mampir walau hanya berbekal cinta kilat dan akan lenyap dalam semalam saja. Dari malam ke malam begitulah, aku menunggu lelaki demi lelaki yang sudi mampir.

Apa kau mau tahu pekerjaanku? Pekerjaan menunggu lelaki. Itu yang kulakukan. Pekerjaan yang sangat tak sesuai dengan keahlianku. Aku seorang sarjana. Dikatakan, seorang yang berpendidikan tinggi. Tapi kini berusaha merelakan, menggadai tubuhku di tempat pelacuran ini.

Temanku, yang setahun lalu mengajakku makan malam untuk merayakan kelulusanku lalu menawariku untuk menginap, ternyata ia dan suaminya adalah sepasang mucikari. Aku ditipu olehnya. Aku disekap dan diancam setelah sempat menginap dirumahnya. Semenjak itu aku dipaksa melayani setiap lelaki yang datang ke rumahnya. Rumahnya tempat pelacuran yang berkedok salon kecantikan.

Kini walaupun temanku dan suaminya sudah ditangkap polisi. Ketika ada seorang polisi yang tak sengaja datang untuk pelesiran. Dan tak sengaja pula dia memilihku untuk melayaninya malam itu. Dan tak sengaja pula malam itu kami hanya bercerita panjang lebar hingga tak sengaja kusampaikan siapa aku dan mengapa bisa berada ditempat ini.

Entah kebetulan, esoknya, tempat pelacuran yang telah menyekapku sekian tahun diciduk polisi. Dipimpin langsung oleh lelaki yang semalam minta ditemani olehku.

* * *


Ah, sekarang aku menyesal. Menyesal dengan semua penolakan yang pernah kulakukan pada lelaki yang datang membawa cintanya padaku. Menyesal karena aku terlalu fokus, sentimental berlebihan dan teramat mementingkan studiku, menggilai studi tepatnya. Menyesal karena aku merasa cantik. Merasa paling cantik dari perempuan kebanyakan. Menyesal pada pernyataanku sendiri bahwa bila sudah jodoh, pasti dia yang entah siapa akan jadi pacarku suatu saat nanti. Sehingga saat itu aku luput pada lelaki yang tak pernah kusadari begitu mencintaiku dengan sepenuh hati.

Dialah polisi yang menyelamatkanku. Dia juga temanku di sekolah menengah dulu. Dia berniat menikahiku. Tapi aku menolaknya. Aku telah kehilangan kesucianku, tak akan mampu memberi keturunan padanya. Aku divonis mengidap kanker rahim juga HIV. Dan umurku tak lama lagi.

Suatu hari, saat matahari berada pada titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah aku merasa sangat cemas pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa. Ada sesuatu yang tak biasa akhir-akhir ini. Aku tak begitu paham apa yang terjadi, tapi, mungkin inilah keanehan yang baru kuketahui bahwa aku memilikinya. Keanehan ini berada di dalam tubuhku. Sebentar lagi. Aku menemuimu Tuhan.

* * * * *


Denpasar, 15 Desember 2010

Karya : I Putu Gede Pradipta
I Putu Gede Pradipta tinggal di Denpasar-Bali. Sempat menempuh pendidikan biologi di dua universitas berbeda walau cuma beberapa semester.

Sumber : Kompas

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Back to Top