Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

September 07, 2010

Ampuni aku, Tuhan...

wahai Tuhanku... aku sebetulnya tak layak masuk surgaMu
tapi... aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu
karena itu mohon terima taubatku ampunan dosaku
sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir
maka berilah smpunsn oh Tuhanku yang Maha Agung

Setiap hari umurku terus berkurang
sedangkan dosaku terus menggunung,
bagaimana aku menanggungkannya ?

wahai Tuhanku, hambamu yang pendosa ini
dengan bersimpuh kehadapanMu
mengakui segala dosaku
mengadu dan memohon kepadaMu

kalau Engkau ampuni itu
karena Engkau sajalah yang bisa mengampun
tapi kalau tidak, kepada siapa lagi
kami mohon ampun selain kepadaMu ?

dikutip dari novel Negeri 5 Menara

August 29, 2010

Mengalirlah Seperti Air

Ada sesuatu yang sangat menarik dari air.
Air selalu berubah, namun di lain pihak, air tetaplah air.
Air tetap sama... hanyalah air.
Air tetaplah air, namun air berubah mengikuti hal lain, mengikuti wadahnya.
Gayanya sangat alami dan berirama, lembut dan halus, namun selalu berubah.
Bentuknya tidak pernah tetap, namun volumenya selalu sama.
Semua itu terjadi dengan sendirinya.
Air adalah simbol kehidupan yang alami, langkah yang alami. Air bukanlah benda yang dapat dipegang, namun zat yang berubah mengikuti alam sekitar... sebuah irama yang
mengalir.


Seperti air, kita harus berubah secara alami mengikuti bentuk kehidupan, dan tidak bertentangan dengan alam kehidupan, tidak memaksa dan tidak menolak alam kehidupan. Ikutilah irama kehidupan, berjalan dengan batin dan keyakinan, dan ketenangan.

Kekakuan tidak akan membawa kemenangan. Ranting yang kaku dan keras akan lebih mudah patah dibanding ranting yang lembut dan halus mengikuti angin. Namun air yang lembut dapat melubangi batu yang terkeras. Artinya, kelembutan dapat mengalahkan kekerasan. Amati saja air dan menyatulah ke dalamnya. Pelajari dan jadilah air.

Bermeditasilah bersamanya, lepaskan segalanya, kenangan masa lalu, masalah sekarang dan pikiran akan masa depan. Hilangkan semua itu Tenang dan mengalirlah bersama air.

Bangunlah dari tidur panjangmu, lalu nikmati keajaiban yang ada, lihatlah bunga-bunga, pepohonan, nyanyian anakanak di jalan, udara yang segar dan air yang terus mengalir.

Ketika segalanya menjadi rumit, berpikirlah seperti air dan bergeraklah seperti air.
Kembalilah ke titik awal kehidupan... berjalan dengan lembut mengikuti alam hingga kita mencapai titik akhir dari misteri kehidupan kita, yaitu kematian.... Dan sepanjang itu, jadilah air.

"Air. Jadilah air. Mengalirlah...."

April 28, 2010

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Karya: Adhie Massardi

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Back to Top